Seminar Bersama Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) - Kepemimpinan Di Era Milenial

19 Januari 2019

Perhatian utama pendidikan pada abad milenial saat ini adalah mempersiapkan hidup  dan  kerja bagi masyarakat dimana  pembelajaran  dan pendidikan bermutu harus ditingkatkan. Abad   milenial merupakan abad pengetahuan dimana suatu era tantangan yang lebih rumit dan matang memberikan  pengaruh besar dalam dunia pendidikan dan lapangan pekerjaan. Perubahan cara    pandang manusia terhadap manusia, manusia terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua,  guru  serta  perubahaan  hubungan  antar semuanya  memberikan  kesadaran  bahwa  kemerosotan  dalam dunia  pendidikan sudah  dirasakan  bertahun-tahun  yang  diakibatkan  oleh  berbagai  faktor  yaitu kurikulum, sarana prasarana, personil, pembiayaan dan sebagainya (Yuliana, 2007: 63).

Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi industri generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin uap pada ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengangkat naik perekonomian secara dramatis. Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik yang memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lainnya yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi komputer, internet dan digital yang tidak saja mengubah dunia industri namun juga budaya dan habit generasi secara mendasar. Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial.

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utama seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang positif dalam usaha mencapai tujuan.

Beberapa pakar leadership di bawah ini memberikan definisi mengenai kepemimpinan adalah sebagai berikut.

“Kepemimpinan merupakan seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka bersedia dengan kemampuan sendiri dan secara antusias bekerja utuk mencapai tujuan organisasi” (Weirich & Koontz, 1993)

“Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan mengarahkan orang lain guna mencapai tujuan” (Hellriegel & Slocum, 1992)

“Pemimpin karena kecakapan pribadinya, dengan atau tanpa pengangkatan resmi, dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengarahkan upaya bersama ke arah pencapaian tujuan kelompoknya” (Winardi, 1990).Unsur-unsur pokok yang mendasari kepemimpinan yang efektif diantaranya adalah:

1. Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).

2. Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.

3. Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan

4. Kemampuan menjalin komunikasi dan hubungan yang baik terhadap anggota kelompok maupun di luar kelompok.

Dibutuhkan kharakteristik yang kuat dari seorang pemimpin agar dapat memenuhi keempat unsur pokok yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin yang efektif. Selain berkompetensi pada bidang yang dipimpinnya, seorang pemimpin harus senantiasa memiliki energi positif yang didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain serta untuk membangun hubungan baik dengan anggota tim ataupun di luar organisasinya. Seorang pemimpin harus memiliki kepercayaan terhadap orang lain dan semangat bersinergi untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu seorang pemimpin harus memiliki jiwa pembelajar serta senantiasa berupaya untuk mengembangkan diri baik pengetahuan maupun ketrampilannya.

Pada permulaan tahun 1900 an, revolusi industri telah banyak mengubah pola hidup masyarakat dunia. Tenaga manusia mulai digantikan oleh mesin mesin industri. Banyak orang kehilangan pekerjaan akibat perubahan ini, walaupun di sisi lain justru bermunculan peluang baru akibat dari teknologi yang sudah mulai luas digunakan. Kesadaran akan pendidikan yang lebih tinggi mulai meningkat didorong oleh kebutuhan tenaga kerja yang terampil untuk mengoperasikan mesin mesin industri. Nampaknya sejarah berulang. Pada sekitar tahun 1980 ketika teknologi mekanik dan analog digantikan oleh teknologi digital, terjadi kembali perubahan pola kehidupan masyarakat. Perubahan terus berlanjut seiring semakin pesatnya teknologi berkembang. Kini, teknologi digital sudah tidak lagi mengenal batas, baik tempat maupun waktu. Di mana saja dan kapan saja bisa selalu terhubung satu sama lain. Perlahan sistem kerja konvensional yang cenderung kaku mulai ditinggalkan, dan uniknya, kebutuhan akan life balance semakin meningkat seiring makin mudahnya akses teknologi. Alih alih menghabiskan banyak waktu traveling dari rumah ke kantor, kini orang lebih suka virtual office dan waktu kerja yang lebih fleksibel.

Akibat pergeseran pada jaman revolusi digital ini, kebutuhan akan tipe kepemimpinan pun ikut berubah. Seorang pemimpin tidak saja dituntut untuk memenuhi kriteria dasar seperti yang diuraikan di paragraf sebelumnya, namun juga pemimpin di jaman revolusi digital harus memiliki kemampuan manajemen yang baik untuk mengatur tim virtual nya. Kalau pada era sebelumnya relatif lebih mudah untuk melakukan kontrol dan pengawasan terhadap anggota tim karena berada dalam satu area kerja, sekarang sudah berubah. Pendekatan yang dilakukan pasti akan berbeda. Pemimpin di era sekarang harus jeli untuk dapat melihat dan beradaptasi terhadap perubahan ini.

Selain itu, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya life balance pada masyarakat jaman sekarang yang telah jenuh dengan rutinitas dan pola kerja yang banyak menyita waktu, dibutuhkan pola kepemimpinan yang lebih humanis, pemimpin yang lebih “memanusiakan” manusia, yang memiliki sentuhan sosial yang tinggi dan berorientasi pada nilai nilai kebajikan dan spiritual. Kontak sosial masyarakat kini lebih luas dan lebih banyak dilakukan daripada era sebelumnya, meskipun kontak sosial tersebut tidak selalu dilakukan dengan bertemu langsung secara fisik saja, akan tetapi justru lebih banyak melalui berbagai teknologi digital ataupun media sosial. Dibutuhkan pemimpin yang mengajak bukan hanya memerintah, yang lebih banyak berempati daripada menghakimi dan lebih banyak mendengar serta mampu membimbing dan mendorong anggota tim untuk berkembang. Di era revolusi digital diperlukan pemimpin yang memiliki kemampuan sebagai seorang coach.

Seorang pemimpin sebelum bisa menjadi “pelatih” yang baik bagi anggota timnya, haruslah selalu mengembangkan kemampuan dirinya dalalm rangka meningkatkan leverage. Kesalahan pemimpin yang umum terjadi dan fatal adalah jika kurang tepat dalam menentukan di mana dia berada saat ini dan akan ke mana arah yang akan dituju. Ketajaman visi seorang pemimpin perlu senantiasa diasah. Seperti atlet professional yang selalu didampingi oleh pelatih agar menjadi atlet yang handal demikian pula hal nya dengan seorang pemimpin.

Kepala sekolah adalah tokoh sentral dalam peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan. Peran kepala sekolah sangat strategis dalam upaya mewujudkan sekolah yang bermutu dan memiliki daya saing global sesuai arah dan cita-cita pendidikan menuju insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Kepala sekolah sebagai pimpinan diharapkan mampu menjadi penyumbang keberhasilan bagi penguatan mutu tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik pendidikan Indonesia.

Taman kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang melibatkan banyak orang. Dalam pengorganisasian sebuah taman kanak-kanak harus dilakukan dengan baik karena di dalamnya terdapat kesatuan perintah, kesatuan arah, pembagian tugas yang tegas dan keseimbangan antara wewenang dan jabatan. Manajemen dalam sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) adalah hal yang sangat penting. Manajeman yang baik akan menciptakan suasana kerja yang baik bagi orang-orang yang berkarya, dan secara otomatis menciptakan suasana belajar mengajar yang baik.

Saat ini kepemimpinan linear dimana hubungan antara manajemen dan karyawan lebih seperti “Bos” dan Bawahan” sudah tidak tepat untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi dan inovasi digital yang bergerak semakin cepat secara eksponensial. Maka dari itu, kepala sekolah harus memiliki ilmu pengetahuan tentang kepemimpinan yang sesuai dengan era milenial. Berdasarkan uraian di atas sebagai bentuk partisipasi terhadap pengembangan pendidikan, Progam Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yaitu dengan judul Kepemimpinan di Era Milenial dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan pada tim pengajar di era milenial.

Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak dapat diukur secara objektif melainkan diukur secara subjektif berdasarkan review di hari kedua seminar. Pengukuran subjektif berdasarkan sudut pandang keaktifan dan partisipasi peserta.

Keaktifan dan partisipasi peserta dapat dikatakan sangat baik. Hal ini dilihat dari simulasi kepemimpinan dalam pengelolaan sumber daya manusia. Simulasi yang dilakukan dapat dilihat dari pemahaman peserta dalam mengimplementasikan materi yang telah diberikan selama seminar. Kemudian partisipasi dapat dilihat dari keseriusan peserta dalam melakukan sesi Tanya jawab, sehingga kegiata seminar kalayaknya kegiatan diskusi.

Kegiatan pengabdian ini dapat memberikan kontribusi kepada kepala sekolah agar dapat merencanakan sistem kepemimpinan yang sesuai dengan generasi milenial sehingga tercipta budaya kerja yang baik di sekolah yang dipimpin. Berdasarkan hasil survey melalui ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kota Bandung menyataka bahwa, permasalahan yang sering terjadi di sekolah adalah kesulitan dalam memaksimalkan potensi dari pegawai muda di lingkungan sekolah taman kanak-kanak yang dipimpin. Maka dari itu, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat hasil yang diperoleh sebagai berikut:

  • Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai kepemimpinan yang sesuai dengan era milenial.
  • Meningkatkan pengetahuan kepada sekolah mengenai peran dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.